koleksi foto gadis lugu imut dan lucu tapi hot

koleksi foto gadis lugu imut dan lucu yang berfoto pasang muka malu malu, tapi seksi hot bangget apalagi kalau lihat senyumannya yang madih polos tapi jangan salah tatapan matanya hot bangget, langsung aja menuju tpp lihat sendiri fotonya ☺☺

Bercinta di toko buku malu malu

Malu malu bercinta di toko buku, cerita seks asik, kumpulan cerita dewasa hot, cerita dewasa seru, cerita ML, cerita sexs seks,dan cerita dewasa terbaru update terbaru


Bercinta di Toko Buku

Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.

Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.

Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai. “Maaf..” kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. “Busyet! molek juga nih ibu-ibu”, pikirku.

“Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet”, katanya sambil tersenyum manis.
“Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..”
“Kamu suka juga fotografi yah?”
“Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok..”
Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya, “Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.
“Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan”, katanya sambil menggandeng anaknya.
Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.

Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.
“Hi, asyik amat baca bukunya”, tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.
“Ada yang kelupaan Mbak?”
“Oh tidak.”
“Putrinya mana, Mbak?
“Les piano di daerah Tebet”
“Nggak dianter?
“Oh, supir yang nganter.”
Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.

“Ke mana?” tanyaku.
“Terserah kamu saja”, balasnya mesra.
“Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol”, kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.
“Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol”, katanya sambil tersenyum.
Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.

Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Maya yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Maya, Mbak Maya pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku. Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. “Mmhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tidak tahan nih”, sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku.

Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung. “Buka dong bajumu”, pintanya dengan penuh kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari CD-ku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya.

Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya. Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang. Nafas Mbak Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya.

Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan. Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Maya menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras. Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.

Kulihat Mbak Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Maya bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “Slebb..” tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Mbak Maya merintih kesakitan.

“Pelan-pelan Ndi”, pintanya lemah.
“Ya deh Mbak”, dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi senjataku. “Aarrghh.. pelan Ndi..” Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga. Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. “Arrhhghh..” Mbak Maya menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.

“Kenapa Mbak, mau udahan dulu?” bisikku padda Mbak Maya setelah melihatnya kesakitan.
“Jangan Ndi, terus aja”, balasnya manja.
Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Maya yang ketat sekali.

Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Maya. Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras.

Setelah Mbak Maya tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Maya mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Maya mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat.

Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, “Auuwww..”, jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.
“Istirahat dulu Mbak”, tanyaku.
“Ya Ndi.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas Ndi”, bisiknya dengan nada manja.
“Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja..”, balasku tak kalah mesranya.
“Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain..”, pancing Mbak Maya.
“Ah nggak kok Mbak, baru kali ini”, jawabku berbohong.
“Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu hebat Ndi.. Sungguh perkasa”, puji Mbak Maya.
“Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak”, balasku balik memuji.
“Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur”, balasnya manja.
Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.

Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Maya tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yang luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya. Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Mbak Maya harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomer telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai

cerita sexs Asik bercinta Dengan Tetangga

bercinta dengan tetangga kumpulan cerita dewasa hot, cerita dewasa seru, cerita seks, cerita ML, cerita sexs seks,dan cerita dewasa terbaru update terbaru

Weekend kemaren aku ke Jakarta, sekalian mo mampir ketempat ponakan yang kos didaerah Karet Kuningan. Dia adalah anak kakakku. Kakakku nitip makanan buat anaknya, karena aku ke jakarta ya akulah yang disuruh jadi messenger. Hak prerogatif kakak tertua. Buat aku sih gak masalah, toh skalian ke jakarta, apasalahnya mampir ke tempat ponakanku yang abege itu. Katanya tempat kosnya mewah. Karena hujan deras 2 jam, Jakarta dilanda kebiasaannya yang sekarang bukan tahunan tapi bisa 2 bulanan, yaitu genangan yang dalam (ntar ada yang tersinggung lagi kalo dibilang banjir) dan ujung2nya macet. tempo ari waktu kampanye rasanya ada pasangan yang bekoar2 bahwa mreka adalah ahlinya untuk ngatasi genangan dalem dan macet, ternyata dua2nya omdo (Omong doang) alias nato (no action talk only). Kok jadi ngelantur seh, kembali ke alur (Kalo bilang laptop ntar dibilang nyontek kata2nya orang yang punya tampang ndesa rejeki kota lagi). Karena genangan dan macet, jadilah aku parkir di jalan bebas gerakan didalem kota (tol kan jalan bebas hambatan, kalo macet ya bebas gerakan alias gak bisa bergerak sampe bisa parkir, gitu kok naik mulu tarifnya, (ngelantur lagi neh, kembali ke crita). Lepas dari kemacetan, sudah ampir magrib waktu aku sampe ke kos ponakan. Aku ketok2 pintu kamarnya, gak ada jawaban. Tetangganya muncul, wah amoy, cantik banget lagi, mana bahenol pula. “Om nyari Noni (sebut ja nama ponakanku itu), dia kan tugas keluar kota?” “Tugas?” “Iya om tugas dari kampusnya, ke desa mana gitu, Mey-mey lupa”. KKN kali ya (bukan korupsi, kolusi dan nepotisme lo). “Makasi ya, namanya Mey-mey ya, saya om nya Noni”. Dia diam ketika aku mengeluarkan hp dan coba call ponakanku. Nyambung, “Om, sori ya, Noni mesti KKN neh, gak ngasi tau papah, jadi deh om kecele, dah jauh2 ke kos, noni gak ada”. “Gak apa kok non, ini ada titipan makanan, gimana”. “Titip Mey-mey aja om, tetangga noni, biar bisa dimasukin di kulkasnya”. “Mo nyusahin ni Mey”. “Kalo bisa Mey-mey bantu gak apa kok om”, jawabnya sembari tersenyum, manis sekali.

Mey-mey memang cantik, mata sipitnya berbinar2, hidungnya bangir, bibirnya mungil, kalo senyum kelihatan giginya yang putih cemerlang (bahasa iklan pasta gigi banget ya). Wajahnya yang tirus dihiasi denganrambut potongan lelaki, pendek tapi serasi sekali, sehingga bener2 cantik deh. Mana bodinya aduhai lagi, tonjolan didadanya dan pantatnya yang membulat, menambah keseksian bodinya. Aku tahu karena Mey-mey saat itu memakai celana pendek dan tanktop ketat, sehingga lekak liku bodinya nyata terlihat. Glek, aku sampe nelen ludah menikmati pemandangan yang membuat pikres itu (pikiran jadi ngeres). “Masuk om”, katanya mempersilahkan aku masuk kekamarnya. Wah rupanya kos mewah ala apartmen kaya gini toh, ada ruang tamu merangkap ruang makan dan pantri kering lengkap dengan perabotannya, sofa set, meja dan kursi makan, lemari es dan ada microwave. Di atas credenza ada lcd tv ukuran 32 inch dan audio visual systemnya, kamar tidur (aku gak liat isinya karena gak enak longok2 ke kamar tidur orang, laen kalo diajak yang punya ruamah ya) dan corner untuk cuci jemur pakean, kulihat ada mesin cucinya. “Asik banget kamarnya Mey. Mahal nih sewanya”. “Iya om, kalo gak ada donatur sih Mey-mey gak sanggup tinggal disini. Kalo ortunya Noni sih tajir ya om, Noni malah kamar tidurnya dua”. “Donatur? Otu kamu?” “Bukan om, ortu mana mampu bayarin kos gaya apratmen gini, mana lengkap banget kan fasilitasnya. Masi bisa kuliahin ja dah bagus, itu ja tersendat ngirim duitnya. Baiknya ada donatur”. “Mangnya kuliahnya semester brapa?” “Baru mulai om”. “Wah baru 18 ya”. “Kok om tau sih?” Aku menebak2 siapa yang dimaksud dengan donatur, jangan2 bisyar neh ato simpenan. Wah kalo bisa nemenin aku malem ini asik banget, mana dingin lagi abis ujan gede. Padahal dinginnya ruangan karena ac nyala. “Om mo nitip apa sih”. “Ini katanya makanan, takut basi, bisa gak nitip dilemari esnya”. “O bisa om, om mo minum apa?” Gak usah repot deh, skarang dah waktunya makan kan, bisa gak Mey-mey nemeni aku makan”. “Boleh, deket2 sini banyak warung, gengsi gak makan di warung, ato di office building deket sini banyak restonya. Om mo yang mana”. “Ke resto aja yah, ngerepotin gak?” “Gak kok om, Mey-mey gak ada acara”. “Masak malming gini gak ada acara, donaturnya lagi sibuk ya”. “Iya om”, dia tersenyum. “Ya udah nemenin aku ja ya malmingnya”, pancingku. “Boleh om, Mey-mey mandi dulu ya, gak apa kan om nunggu”. “Gak usah mandi, dah cantik gitu dan wangi lagi”. “Ya udah Mey-mey tuker baju dulu”.

Dia menghilang kekamarnya, pintunya gak ditutup. Belum sempet aku ngintip, dia dah muncul lagi, hanya nuker celana pendek dengan celana jins ketat. “Yuk om”. Kita menuju ke mobil ku. Di jok blakang ada tasku. “Om mo nginep dimana?” “Kok tau aku mo nginep?” “Tuh bawa tas, kalo pulang Bandung lagi ya gak bawa taskan”. “Pinter kamu, gak tau neh mo nginep dimana, nginep dikamar Mey-mey bole gak”, aku to the point aja. “Nginep ditempat Mey-mey?”. “Iya, nanti uang hotelnya aku kasi Mey-mey deh”. Dia hanya tersenyum sambil menunjukkan arah ke office building. Karena dah sore, weekend lagi, tempat parkirnya kosong, jadi gak susah cari parkirnya. “Kalo siang nyari parkir ja susah om”. “Kamu memangnya sering ya ke sini naek mobil, ma donatur?” Dia menggangguk, dugaanku kayanya bener deh, donaturnya ya om2 yang nyimpen dia. “Om mo makan apa, ada resto sunda, enak om, ato bosen ya orang Bandung kok diajak makan di resto sunda”. “Gak apa kok, kan resto sundanya di jakarta, pasti beda cara masaknya. Donatur suka makanan sunda ya Mey”. Om nih, gangguin trus”, tapi sambil tersenyum. Tangannya kugandeng, dia diem aja, kita berjalan menujuke resto yang dimaksud. Aku suru dia pesen makanan yang dia suka, karena resto ala sunda biasanya ada ikan goreng, lalap, sayur asem, tahu tempe, empal dan sejenisnya. Minumnya aku pesen minuman energi yang dituang ke gelas berisi es batu, “Biar kuat ya om?” senyumnya mengandung maksud tertentu deh. “Biar seger ja, kan nyetirnya jauh, mana macet banget lagi bgitu masuk jakarta”. Makanan dan minuma tersaji dan kita mulai makan.

Selama makan aku berusaha ngorek data dirinya. “Mey, donatur kamu om2 ya”. “Om to the point amir sih”. “Kok amir”. “Iya om amat lagi cuti pulang kampung”. Aku terbahak mendengar jokenya. “Iya kan, om2″. Dia mengangguk. “asik dong dibiayain tinggal di kos apartment kaya gitu, kebutuhan hidup juga dicukupi ya”. Kembali aku mendapat anggukan. “Dah brapa lama Mey?” “Sejak mulai kuliah ja om”. “Kenal dimana?’ “Ketemu di mal, diajak makan, diblanjain, terus cek in deh”, dia sudah gak malu2 lagi crita tentang dirinya. Sepertinya dia nyangka aku dah menduga siapa donaturnya. “Diprawanin?” “Iya om”. “Sakit dong”. “Sakit lah, tapi sbentar, si om pinter banget deh ngerangsang Mey-mey sampe sakitnya cuma sbentar, slebihnya nikmat, ketgaihan deh Mey-mey”. “Kok skarang ditinggalin ndirian?” “Biasalah lelaki, kalo dah mulai bosen nyari yang baru. “Trus donasinya distop dong”. “Iya nih om, om deh jadi penggantinya”. “Boleh juga, aku sering kok mesti ke jakarta, kan gak usah kluar duit hotel, bisa buat kamu duitnya kan”. “Om baek deh”. Kamu melanjutkan makan dan minum dengan santainya. Selesai makan, Mey-mey ngajakin ke pub yang ada dilokasi yang sama. “Santai dulu ya om, sembari denger musik”. Dia pesen minuman, beralkohol lagi. Aku ikutin ja kemauannya. “Sering minum alkohol ya Mey”. “Suka juga om, biar asik aja”. Kebetulan musik yang dinyanyikan soft nadanya sehingga gak mengganggu ngobrolku dengan Mey-mey. “Om kamu kalo maen lama ya Mey”. “Lama juga om, Mey-mey suka 2 kali klimax dia baru kluar”. “Didalem?” “Iya lah om, kalo diluar mana nikmat”. “Kamu gak takut?” “Hamil? ya enggaklah om, Mey-mey punya obat antinya”. “Pil KB?” “Bukan om, diminumnya kalo Mey-mey subur ja, abis maen”. “Skarang lagi subur gak”. “iya om, justru kalo lagisubur Mey-mey suka lebih napsu maennya, jadinya lebi nikmat deh om. gak papa2 kok om, kan udahannya minum obat” Sepertinya dia sudah memastikan bahwa malem ini aku bakal ngen totin dia. “Tangan kamu buluan ya Mey, ada kumisnya lagi biar tipis”. “Mangnya napa om”. “Jembut kamu pasti lebat, dicukur gak?” “Gak om, si om sukanya lebat gitu, pernah Mey-mey babat abis, dia gak bisa ngaceng, dimarahin abis deh”. “Nosok sih, aku baru ngeliat kamu pake pakean seksi gini udah”. “Udah apa om, ngaceng?” dia tertawa. “Gak tau om, lagi cape kali dia, Mey-mey emut2 lama2 keras juga kok. Napa ya om lelaki seneng cewek yang jembutnya lebat”. “Kalo buluan, napsunya biasanya gede, gak puas cuma seronde maennya, bener gak” “Yoi, om tau aja, dah pengalaman juga rupanya nih, sukanya abege ya om” “Iya yang bikin horny kaya kamu gini”. Ngobrol berkepanjangan, ketika aku melihat arloji malam dah larut. “Balik yuk Mey”. “Om dah gak tahan ya, pengaruh alkohol pastinya, ayuk deh, Mey-mey juga dah pengen om”. Aku membayar bil, kali ini Met-mey yang berjalan sambil memeluk lenganku erat, manja sekali dia. Baiknya ponakan gak ada, kalo gak aku gak bisa bebas gini. “Wah kalo ada noni gak bisa bebas gini ya Mey”. “Katanya noni mo nyari kos yang lebi deket skolahnya om, biar bisa jalan kaki. Capek nyetir dan nyari parkir katanya”. “Bagus deh”, jawabku sambil membukakan pintu mobil, Dia masuk dan aku pun duduk dibelakang setir. Mobil mengarah kembali ke kosnya Mey-mey. Aku parkir, Mey-mey keluar duluan. Aku membawa tasku dan menyusul. Kuketuk pintunya, agak lama aku menunggu.

Aku kaget juga, ketika pintu terbuka Mey-mey hanya berbalut bra tipis model ikatan dan g string yang juga tipis. Aku sampe membelalak melihat pemandangan indah itu. “Mey kamu napsuin banget”, kataku sambil merangkul pundaknya menuju ke sofa. Pintu kututup dengan kaki, bibirnya yang langsung kucium dan kulumat. Dia tergagap sesaat sebelum membalas lumatanku. Aku merasakan lidahnya menyusup ke dalam mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidahnya menari-nari di mulutku. Sambil melumat, aku juga merambah tubuhnya. Kuremas toketnya yang masih terbungkus bra tipis. Dia menggelinjang. Menggeliat-geliat karena rasa nikmat yang luar biasa. Bibirnya terus kulumat, dan dia menyambutnya dengan penuh napsu. Kurangkul tubuhnya, bibirku lebih menekan lagi. Kusedot lidahnya, sekaligus juga ludahnya. Aku kembali meremasi kedua toketnya, dan melepaskannya ikatan branya. Kemudian aku mulai menjilati dan mengemut toket dan pentilnya. Dia rupanya nggak mampu menahan gelinjang ini, rintihan keluar dari mulutnya. Tanganku turun untuk meraih g stringnya. Dia makin tak mampu menahan napsu saat jari-jari kasar ku merabai bibir no noknya dari luar g string dan kemudian mengilik i tilnya. Jariku meraih no noknya melalui samping g stringnya. Cairan no noknya yang sudah mengalir sejak tadi menjadi pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jariku ke no noknya. Aku terus menggumuli tubuhnya dan merangsek ke ketiaknya. Aku jilati dan sedoti ketiaknya. Dia menikmati sambil merintih. Aku ingin memberikan sesuatu yang lain dari yang lain. Dinding no noknya yang penuh saraf-saraf peka aku kutik-kutik, hingga tak terbendung lagi, cairan no noknya mengalir dengan derasnya. Yang semula satu jari, kini kususulkan lagi jari lainnya. Aku tahu persis titik-titik kelemahannya. Jari-jariku mengarah pada G-spotnya. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di no noknya, aku berhasil membuatnya nyampe. Kepalaku diraih dan diremasi rambutku. aku dipeluknya erat-erat dan kukunya menghunjam ke punggungku. Pahanya menjepit tanganku, sementara pantatnya terangkat agar jariku lebih melesek ke no noknya. Dia berteriak histeris. Kakinya mengejang menahan kedutan no noknya yang memuntahkan cairan bening. Keringatnya yang mengucur deras mengalir ke mata, pipi, dan bibirnya. Saat telah reda, aku mengusap-usap rambutnya yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Aku sisir rambutnya dengan jari-jari. “Mey, kamu liar banget deh. Istirahat dulu ya. Aku ambilkan minum ya”, aku mengambilkan minuman dari lemari esnya. kaleng coca cola kubuka dan kuberikan kepadanya. Segera diminumnya coca cola itu sampe habis. Sementara dia masih terlena di sofa dan menarik nafas panjang sesudah nyampe tadi, aku terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungku ke perutnya. Bahkan lidah dan bibirku menjilati dan menyedoti keringatnya. Aku tak henti-hentinya merabai selangkangannya. Dia terdiam. Dia perlu mengembalikan staminanya. “Masih capek Mey”, bisikku. “Nggak kok. Lagi narik napas saja. Tadi nikmat banget yaa padahal om belum apa-apa. Baru di utik-utik saja Mey-mey sudah kelabakkan”, jawabnya.

Karena jawabannya tadi aku bangun dan melepaskan semua yang menempel dibadanku. Dia sangat tergetar menyaksikan tubuhku. Bahuku bidang. Lenganku kekar dengan otot-otot yang kokoh. Perutku nggak nampak membesar, rata dengan otot-otot perut yang kencang, six pack gitu loh. Bukit dadaku kokoh, dengan dua pentil besar kecoklatan. Pandangannya terus meluncur ke bawah. Dan yang paling membuatnya terpesona adalah kon tolku yang besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kon tolku mengundang untuk diremes, dikocok dan diemut. Sesudah telanjang aku menarik lepas g stringnya sehingga sekarang kita berdua sudah bertelanjang bulat. “Mey, jembut kamu lebat banget, pantes kamu tadi jadi liar”, kataku sambil mengelus2 jembutnya. “Bukannya liar, itu namanya menikmati om. Kekamar yuk om”.

Kami bangkit dari sofa, dia menarik tanganku masuk kamarnya. Kamarnya lumayan bear, dengan kamar mandi didalem, tempat tiur besar, lemari pakean yang masuk ketembok, meja rias, ada lcd tv 21 inch dengan audio visual systemnya. Dia mendorong tubuhku hingga terbaring di ranjang. kon tolku yang keras diremesnya. Kemudian kepala kon tolku dibasahi dengan ludahnya. Diratakan ludah dengan jarinya. Aku menggeliat kegelian. Dengan lembut diusapnya seluruh permukaan kepala kon tolku yang besar, aku melenguh karena nikmatnya. Digenggamnya pangkal kon tolku dan kepalanya yang basah mulai dijilati. Diujung kepalanya ada setitik cairan bening. Sambil menjilati cairan bening itu, kon tolku dikocok turun naik. Dengan lidah dia menjilati kepala dan leher kon tolku, semua daerah sensitif dijelajahinya dengan lidah. Akhirnya kepalanya diemut dan dikeluar masukkan ke dalam mulutnya. Perutku dielus2, aku meremas2 rambutnya. Dia terus saja mengisap kon tolku. kon tol yang gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. kepalanya kuelus-elus. Dengan penuh semangat dia terus mengulum kon tolku. “Mey, nikmat banget emutanmu”, erangku. “Kamu pinter banget siihh”. Dia terus memompa dengan lembut. Berkali2 dia mengeluarkan kepala kon tolku dari mulutnya. Dia menjilati tepi-tepinya. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya dijilati habis-habisan. “Mey, nikmatnya aah”, kembali aku mengerang. Aku tak tahan dengan rangsangannya, aku tarik dia dari kon tolku, kubaringkan dan kembali mulutku mengarah ke no noknya. Dengan lembut aku menjilati daerah sekeliling no noknya, pahanya kukangkangkan supaya aku mudah mengakses no noknya. “aah”, ganti dia yang melenguh keenakan. Lidahku makin liar menjelajahi no noknya. Bibir no noknya kukuakkan dengan jari dan kembali i tilnya yang menjadi sasaran lidahku. Dia makin menggelinjang gak karuan. Napasnya menjadi gak teratur, “Mey-mey dien tot dong om”, erangnya. Dari no noknya kembali membanjir cairan bening. Aku menjilati cairan itu.

Badannya kutarik, aku segera menempatkan kon tol besarku di bibir no noknya. Pelan2 kumasukkan sedikit demi sedikit, nikmat banget rasanya. Aku mulai mengenjotkan kon tolku keluar masuk, mula2 pelan dan makin lama makin cepat dan keras, kon tolku udah ambles semuanya di no noknya, “Aah”, erangnya lagi. Aku terus saja mengenjotkan kon tolku dengan keras dan cepat, sehingga akhirnya no noknya makin berdenyut mencengkeram kon tolku dengan keras. “Terus yang cepat om, Mey-mey mau nyampe, aah”, erangnya dengan liar. Aku terus saja mengenjotkan kon tolku sampe akhirnya, “Aah, Mey-mey nyampe…”, kembali dia berteriak. Aku menghentikan enjotanku. Kembali aku membelai2 rambutnya dan bibirnya kucium dengan mesra. “Nikmat banget dien tot ama om, baru sebentar dienjot, Mey-mey dah nyampe,” katanya.

Aku mencabut kon tolku dan minta dia nungging Segera kutancapkan kembali kon tolku di no noknya dari belakang. Pinggulnya kupegangi sambil mengenjotkan kon tolku keluar masuk dengan cepat, rasanya kon tol masuk lebih dalam lagi ke no noknya, nikmat banget rasanya. Aku ingin merasakan macem2 gaya ngen tot, segera aku telentang dan minta dia yang diatas. Dia menancapkan kon tolku dino noknya dan diturunkannya tubuhnya sehingga kon tolku kembali ambles di no noknya. Dia menggerakkan pinggulnya turun naik dan juga dengan gerakan memutar. Aku meremas2 toketnya dan memlintir pentilnya. Dia membungkukkan badannya sehingga aku bisa mengemut pentilnya, sesekali kugigit pelan, Dia menjerit2 karena nikmatnya. “Mey, aku dah mau ngecret, didalem ya”, kataku sambil terus meremes toketnya. “Ngecretin didalem aja om, biar lebih nikmat”, jawabnya sambil terus menaik turunkan pinggulnya mengocok kon tolku yang ambles di no noknya. Dia kembali membungkuk, kali ini bibirnya kucium dengan ganas. Aku memegangi pinggangnya. Gerakan pinggulnya makin cepat, dia juga merasa akan nyampe lagi. no noknya terasa berdenyut2, “Om, Mey-mey mau nyampe juga, bareng ya om”, katanya terengah. Terus digerakannya pinggulnya naik turun dengan cepat sampe akhirnya pejuku muncrat menyembur2 didalam no noknya. Bersamaan dengan ngecretku, dia nyampe kembali. “Nikmatnya..”, erangku. Dia menelungkup lemas dibadanku, aku memeluknya dan mengecup bibirnya, sementara kon tolku masih nancap di no noknya. “Mey-mey lemes banget, tapi nikmatnya luar biasa”, katanya. “Ini baru ronde pertama lo Mey”, jawabku. “Mey-mey mau kok om en totin lagi”, katanya.

Dia berbaring kelelahan diranjang. Aku disebelahnya, aku belum puas, kembali aku meremas toketnya. “Kamu seksi banget ya Mey, toket kamu besar dan kenceng. Jembut kamu lebat banget, aku suka ngen tot ama yang jembutnya lebat. Mana no nok kamu kenceng banget empotannya, aku mau ngerasain lagi ya Mey”, kataku dan kembali aku mencium bibirnya. Aku bangun dan segera mengarah ke no noknya, aku tau titik lemahnya ada dino noknya. Aku kembali menjilati no noknya. Ujung lidahku kembali menelusup masuk ke no noknya. Rambutku segera diremas2 dan ditekannya kepalaku supaya lidahku lebih masuk lagi ke no noknya. Pantatnya menggelinjang naik keatas. Aku terus saja menggarap no noknya, pahanya kupegangi erat2 sehingga dia sulit untuk bergerak2, dia hanya bisa mendesah2 kenikmatan. desahannya merangsang napsuku sehingga segera aku melepaskan no noknya dan menaiki tubuhnya. “Om kuat banget sih. Baru aja ngecret udah pengen masuk lagi”. Aku tidak menjawab. Kugenggam kon tolku, kuarahkan ke no noknya. Dia menggelinjang saat kepala tumpul yang bulat gede itu menyentuh dan langsung mendorong bibir no noknya. Kepala kon tolku menguak gerbang no noknya. no noknya langsung menyedotnya, agar seluruh kon tol gede itu bisa dilahapnya. Uuhh .. dia merasakan nikmatnya desakan kon tol yang hangat panas memasuki no noknya. Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. kon tol panas itu terus mendesak masuk. kon tol itu akhirnya mentok di mulut rahimnya. Kemudian aku mulai melakukan pemompaan. Kutarik pelan kemudian kudorong. Kutarik pelan dan kembali kudorong masuk. Begitu aku ulang-ulangi dengan frekuensi yang makin sering dan makin cepat. Dia mengimbangi secara reflek. Saat aku menarik kon tolku, pantatnya juga menaik sambil sedikit goyang ngebor. Dan saat aku menusukkan kon tolku, pantatnya cepat menjemputnya disertai goyangan igelnya. Demikian secara beruntun, semakin lama makin cepat. toketnya bergoncang-goncang, keringatku bercampur keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuhnya. mataku dan matanya sama-sama melihat keatas dengan menyisakan sedikit putih matanya. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjang kokoh itu ikut berderak-derak. “Mey, nikmat banget deh no nok kamu”. “Kon tol om juga enak banget, panjangg .. Uhh gede banget.” Posisi nikmat ini berlangsung bermenit-menit. tubuh kekarku tampak berkilatan karena keringat, padahal kamar ber ac. keringatku mengalir dari leher, terus ke dada, dan akhirnya ke tonjolan otot di perutku. Dengan gemas dia mainkan pentilku yang bekilatan itu. digigiti, dijilat, diremas2. Tambah buas gerakanku. Sodokan kon tolku tambah kencang di no noknya sambil terus meremes2 toketnya. Pada akhirnya, setelah sekian lama aku mengenjot no noknya dan dia nyampe 2 kali secara berturut2, kon tolku terasa berdenyut keras dan kuat sekali. Kemudian menyusul denyut-denyut berikutnya. Pada setiap denyutan dia rasakan no noknya sepertinya disemprot air kawah yang panas. Pejuku kembali berkali-kali ngcret di dalam no noknya. Uhh .. Aku jadi lemes banget. “Mey-mey lemes nih, tapi nikmat banget. Istirahat dulu ya”, kataku. Aku langsung terkapar di ranjang, dia juga dan tak lama kemudian kami tertidur.

Pagi hari. Aku terbangun karena ada ciuman di bibirku. Diluar udah terang. Dia sedang mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya, kayanya sarapan pagi ya ngen tot lagi. Kami saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan dia saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah. Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tanganku mulai beralih dari betis, merayap ke pahanya dan membelainya dengan lembut. Matanya terpejam. Kembali aku melepas bibirku dari bibirnya. satu tanganku masih terus membelai pahanya, diapun terbaring pasrah menikmati belaianku, sementara aku sendiri membaringkan tubuhku miring di sisinya. Aku mencium bibirnya kembali, yang serta merta dibalasnya dengan hisapan pada lidahku. gairahnya semakin menggelegak akibat tanganku yang mulai beralih dari paha ke selangkangannya, membelai no noknya. “Mmhh.. ” desahnya disela2 ciuman panas kami. Dari mencium bibirnya, lidahku mulai berpindah ke telinga dan lehernya, dan kembali lagi ke bibir dan lidahnya. Permainanku yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatnya terpancing menjadi semakin bernapsu. akhirnya aku mulai meraba2 toketnya, pentilnya yang saat itu sudah tegak mengacung kugesek2. Kuciumi toketnya, kemudian mulai menjilati pentilnya. “Ooohh.. sshh.. aachh.” desahnya langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahku yang basah dan kasar menggesek pentilnya yang terasa sangat peka. Aku menjilati dan menghisap toket dan pentilnya di sela-sela desah dan rintihnya yang sangat menikmati gelombang rangsanganku. Aku melepas pentilnya lalu bangkit berlutut mengangkangi betisnya, dan mulai menciumi pahanya. Kembali bibirku yang basah dan lidahku yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhnya pada setiap sentuhanku di pahanya. Apalagi ketika lidahku menggoda selangkangannya dengan jilatan yang sesekali melibas bibir no noknya. Yang bisa dia lakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak napsu. Aku mengalihkan jilatan kejembutnya yang telah begitu basah penuh lendir no noknya. “ohh..” lenguhnya. Lidahku melalap no nokny dari bawah sampai ke atas, menyentuh i tilnya. Aku menghentikan jilatan dan berlutut di depannya. no noknya terasa panas, basah dan berdenyut-denyut.

Dia membuka kakinya hingga mengangkang lebar lebar, lalu kuturunkan pantat dan kutuntun kon tolku ke bibir no noknya. Terasa sekali kepala kon tolku menembus no noknya. “Hngk! Besaar..sekalii,” erangnya. Tanpa terburu-buru, aku kembali menjilati dan menghisap pentilnya yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodanya dengan menggesekkan gigi pada pentilnya, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap pentilnya, sementara setengah kon tolku bergerak perlahan dan lembut menembus no noknya. Aku menggerak-gerakkan pantat maju mundur dengan perlahan, membuat lendir no noknya semakin banyak meleleh di no noknya, melicinkan jalan masuk kon tol berototku ini ke dalam no noknya tahap demi tahap. Lidahku yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu pentil ke pentil yang lain. “Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. masukin kon tol om yang dalaam..! oouch.. niikmaatnya!” erangnya. Seluruh rongga no noknya terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding no noknya menggesek kon tolku yang keras dan besaar..! Akhirnya seluruh kon tolku yang kekar besar itu tertelan kedalam no noknya. Terasa bibir no noknya dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas pentilnya, aku mulai memaju-mundurkan pantat perlahan, “..oouch. niikmaat!!” dia pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatnya maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatku, dan akhirnya dia semakin tersengal2 diselingi desah desah penuh kenikmatan. “hh..sshh.. hh.. ohh ..suungguuhh.. niikmmaat.” lidahku kembali menari di pentilnya. Dia benar benar menikmati permainanku sambil meremas-remas rambutku. kon tolku yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot no noknya dan menggesek dinding no noknya yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatanku pada pentilnya pun semakin cepat dan bernapsu. Seluruh tubuhnya bergelinjang liar tanpa bisa dikendalikan. Desahannya sudah berganti dengan erangan liar, “Ahh.. Ouchh.. en totin Mey-mey terus, genjot habis no nok Mey-mey..!! genjoott.. kon tol om sampe mentok..!!” Ooohh..bukan main enaknya ngeentoot sama om..!!” mendengar celotehannya, aku menjadi semakin beringas, kon tolku makin cepat kuenjotkan keluar masuk no noknya. Akhirnya dia tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhnya “Ngghh..nghh .. nghh.. Mey-mey mau nyampe..!!” pekikannya meledak menyertai gelinjang liar tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku. Aku mengendalikan gerakan yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan kon tolku dalam2 dengan memutar mutar keras sekali. i tilnya yang sudah begitu mengeras habis kugencet. “..aacchh.. niikmaatnya.. tekeen.. teruuss.. i til Mey-mey..!!” Akhirnya dia nyampe, dia memeluk tubuhku erat sekali. wajahku diciumi sambil mengerang2 dikupingku sementara aku terus menggerakkan sambil menekan kon tolku secara sangat perlahan. Tubuhnya yang terkulai lemas dengan kon tolku masih di dalam no noknya yang masih berdenyut-denyut.

Tanpa tergesa-gesa, aku mengecup bibir, pipi dan lehernya dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarku memeluk tubuh lemasnya dengan erat. Aku sama sekali tidak menggerakkan kon tolku yang masih besar dan keras di dalam no noknya. Aku memberinya kesempatan untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Setelah dia kembali “sadar” , dia pun mulai membalas ciumanku, sehingga aku kembali memainkan lidahku pada lidahnya dan menghisap bibir dan lidahnya semakin liar. Napsunya kembali terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan kon tolku pada dinding no noknya. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar. Genjotan kon tolku pada no noknya mulai cepat, kasar dan liar.

Lalu aku memintanya untuk berbalik, sambil merangkak dan menungging dibukanya kakinya lebar, dia menatap mukaku sayu sambil memelas “Masukin kon tol gede om dari belakang kelobang no nok Mey-mey..” Aku pun menatap bokongnya. Sambil memegang kon tol kusodokan ketempat yang dituju Bleess.. “Ooohh. teruss..yang.. dalaam..!”! terasa besar dan panjang kon tolku menyodok no noknya, terasa sekali gesekannya di no noknya yang menyempit karena tertekuk tubuhnya yang sedang menungging ini. Aku menggarapnya dengan penuh napsu, tubuhnya diayun-ayunkan maju mundur, ketika kebelakang disentakan keras sekali menyambut sodokanku sehingga kon tol yang besar dan panjang itu lenyap tertelan no noknya. “Hngk.. ngghh..Mey-mey mau nyampe lagii..aargghh..!!” dia melenguh panjang, dia nyampe lagi. Dia mendorong pantatnya ke belakang keras sekali menancapkan kon tolku yang besar sedalam-dalam2nya di dalam no noknya, terasa no noknya berdenyut2 mengempot kon tol besarku. Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhnya melemas dipelukanku yang menindih tubuhnya dari belakang. segera aku menggulingkan diri, rebah di sisinya. Tubuhnya yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan.

Aku memeluk tubuhnya dan mengecup pipinya, membuatnya merasa semakin nyaman dan puas. “Mey om belum ngecret..! Tolong isepin kon tol om dong..!” tanpa sungkan lagi dia mengemut kon tolku, dijilatinya biji pelernya, bahkan selangkanganku ketika dia melihat aku menggeliat geliat kenikmatan, “Ohh Mey.. nikmat sekalii.. teruss .. lumat kon tol om, iseep yang daleemm.. ohh..” aku mengerang penuh semangat membuatnya semakin gairah saja mengemut kon tolku yang besar. Emutannya makin beringas, kon tol yang besar itu yang menyumpal mulutnya, kepalanya naik turun cepat sekali, aku menggelinjang hebat. Akhirnya dia menaiki aku, kurasakan no noknya ingin melahap kembali kon tolku yang masih perkasa, diraihnya kon tolku lalu diduduki sembari kuarahkankan kon tolku ke no noknya. Bleess.”Ooohh..Mey..masuukin kon tolku semuanya..!!” aku mengerang. Diputar-putarnya pinggulnya dengan cepat, sekali kali diangkatnya pantatnya lalu dijatuhkan dengan keras sehingga kon tolku yang besar itu melesak dalaam sekali.. “aachh.. Mey..putaar..habiisiin kon tolku.. eennakk.. sekaallii..!!” giliran aku yang merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhku. Digenjotnya kon tolku bahkan sambil menekan keras sekali pantatnya. kon tolku diupelintir habis, bahkan dikontraksikannya otot2 no noknya sehingga kon tol yang besar itu terhisap dan terkenyot didalam no noknya. Aku menggelinjang habis, kadang mengejangkan tubuhku sambil meremas pantatnya keras sekali, ditekannya lagi pantatnya lebih keras, kon tolku melesak seluruhnya bahkan jembutnya sudah menyatu dengan jembutku, i tilnya tergencet kon tolku. Badannya sedikit dimiringkan ke belakang, biji pelerku diraihnya dan diremas-remas, “Ooohh.. aachh.. yeess. Mey”, aku membelalakan mataku. Lalu aku bangkit, dengan posisi duduk aku mengemut toketnya. Dia membusungkan kedua toketnya. “Emut pentil Mey-mey..dua..duanya.. ..yeess..!! sshh.. …oohh..!! erangnya. “Ooohh.. Mey..nikmatnya bukan main posisi ini..! Kon tolku melesak dalam sekali menembus no nokmu..!” aku mendengus2. Kurasakan kon tolku mengembung pertanda pejuku setiap saat akan meletup, “..Ohh.. sshh..aahh.. keluaar..bareeng..ya om”, erangnya lagi. “iya..Mey, aku…udah mau ngecret”. Tubuhku mengejang ketika aku menyemburkan pejuku dengan dahsyat di dalam no noknya, “aachh. jepiit kon tolku.. yeess.. sshh..oohh..nikmaatnya.. no nokmu Mey” aku mengecretkan pejunya di dalam no nokku, terasa kental dan banyak sekali. Diapun menggelinjang hebat, “Nggkkh..sshh.. uugghh.. teekeen kon tol om.. sampe mentookkhh..aarrgghh..!! Ditekannya, dijepitnya, dikepitnya seluruh tubuhku mulai kon tolku, pantat, pinggang bahkan dadaku yang kekar, dipeluknya erat sekali.

seluruh pejuku diperas dari kon tolku yang sedang terjepit didalam no noknya. Nikmatnya sungguh luar biasa. Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, tubuhku terasa lemas sekali. “sarapan ini lebih nikmat dari semalem, Mey-mey mau lagi dong”, katanya. “Kamu masih abg tapi udah pengalaman banget ngempot kon tol ya. Ngen tot sama kamu yang paling nikmat deh Mey katimbang cewek2 lainnya, empotan kamu kerasa banget”. Dia hanya tersenyum kelelahan

 

© 2013 C.S.A. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top